Penyembuhan luka
melibatkan integrasi proses fisiologis. Sifat penyembuhan pada semua luka sama,
dengan variasinya bergantung pada lokasi, keparahan dan luasnya cedera.
Kemampuan sel dan jaringan melakukan regenerasi atau kembali ke struktur normal
melalui pertumbuhan sel juga mempengaruhi penyembuhan luka. Ada 3 fase dalam
proses pnyembuhan luka yaitu :
Fase
Inflamasi
Merupakan
reaksi tubuh terhadap luka yang dimulai setelah beberapa menit dan berlangsung
selama 3 hari setelah cedera. Terdapat 2 proses pada fase ini yaitu:
a. Hemostasis
( mengontrol pendarahan)
Pembuluh darah yang cedera
mengalami konstriksi dan trombosit berkumpul untuk menghentikan pendarahan.
Jaringan yang rusak akan menyekresikan histamin yang menyebabkan vasodilatasi
kapiler di sekitarnya dan mengeluarkan serum serta sel darah putih hal ini akan
menmbulkan kemerahan, edema, hangat, dan nyeri lokal. Sel darah putih yang
berperan dalam fase ini adalah neutrofil dan monosit. Neutrofil berfungsi untuk
memakan bakteri dan debris kecil sedangkan monosit berubah menjadi makrofage
yang akan membersihkan luka dari bakteri, sel mati, dan debris dengan
fagositosis. Makrofage juga menstimulasi pembentukan fibroblast yang berfungsi
mensintesis kolagen untuk pembentukan jaringan parut.
b. Epitelialisasi
( membentuk sel – sel epitel)
Setelah makrofage membersihkan luka
dan menyiapkannya untuk perbaikan jaringan, sel epitel bergerak dari bagian
tepi luka ke bawah dasar bekuan luka atau keropeng, sel epitel terus berkumpul
selama 48 jam hingga akhirnya diatas luka terbentuk lapisan tipis dari jaringan
epitel.
Terlalu sedikit
inflamasi yang terjadi akan menyebabkan fase inflamasi berlangsung lama dan
proses penyembuhan luka pun berlangsung lambat.
Fase Proliferasi
Terjadi
dalam 3 – 24 hari, aktifitas utama fase ini yaitu menigisi luka dengan jaringan
penyambung atau jairngan granulasi yang baru dan menutup bagian atas luka
dengan epitelisasi. Pada proses ini fibroblast masih bekerja mensintesis
kolagen yang akan menutup defek luka pada
fase ini luka mulai tertutup dengan jaringan yang baru sehigga daya elastisitas
luka meningkat dan resiko terpisah atau ruptur luka akan menurun.
Tingkat
tekanan luka mempengaruhi jumlah jaringan parut yang terbentuk. Miksalnya, luka
pada ekstremitas lebih banyak jaringan parutny dibandingkan dengan luka pada
kepala atau organ yang jarang bergerak.
Fase Maturasi ( Regenerasi )
Merupakan
tahap akhir proses penyembuhan luka, dapat memerliuka waktu lebih dari satu
tahun, bergantung pada kedalaman dan luas luka. Jaringan parut kolagen terus
melakukan reorganisasi dan akan menguat
setelah beberapa bulan. Namun luka luka yang telah sembuh biasanya tidak
memiliki elastisitas yang sama dengan jaringan yang digantikannya. Serat
kolagen mengalami Remodeling atau reorganisasi sebelum mencapai bentuk normal.
Biasanya jaringan parut mengandung sedikit sel-sel pigmentasi ( melanosit )
memiliki warna yang lebih terang daripada warna kulit normal.
Sumber
: (Potter & Perry, 2005)